Pada masa semua tersimpan sebagai rahasia
Berjuang kita masing-masing
Sebab percaya kelak kita akan saling mebahagiakan
Lalu harap memaksa kita mengutarakan
Bukan harapan yang terjawab
Namun meruntuhkan pengorbanan
Ini kesia-siaan
Mengapa kita tidak menurut saja pada takdir
bahwa kita adalah ketidak mungkinan
Selasa, 25 Juni 2019
Teman (harusnya cukup)
Selasa, 02 April 2019
Sempat
Kata siapa aku belum mengutarakan?
Sudah ku bicarakan, perihal segala sempat adakah aku jadi kesempatan.
Sejujur-jujurnya pesan perasaan tersirat itu sudah kusampaikan.
Dia dengar tapi tidak melihat.
Dia tahu tapi dia pura-pura.
Dia bodoh?
Memang tapi aku merasa lebih bodoh.
Kamis, 28 Maret 2019
Perempuan Setengah Maya
Disudut ruangan ini, seorang perempuan sering sekali menggelung terlelap. Biasanya selepas ia lakukan banyak hal untukku. Ia kelelahan. Lalu disudut ruangan itu, aku tepat berada disampingnya melihat matanya tertutup, mulutnya setengah terbuka dan tubuhnya yang kurus.
Tidak, aku hanya menjaganya.
Kadang kali ia yang menjaga ku. Disudut ruangan itu selepas ke banyak tempat kuantarkan dia. Aku kelelahan. Dia menjaga ku, dengan sebuah buku ditangannya ia habiskan waktu.
Ruangan itu kini tidak berpenghuni. Sepi. Hanya aku yang terkadang duduk menunggui diriku sendiri. Berusaha menghabiskan waktu seperti yang dia lakukan, tapi tetap sepi.
Kepalaku penuh, dadaku sesak. Aku merindu, aku kehilangan. Dia tidak terlupakan.
Aku bukan lagi tempat yang ia cari untuk pulang.
Kini Ia perempuan setengah maya.
Jumat, 15 Maret 2019
Bukan Hilang.
Pandai kita meluka
Berpura tidak merasa
Bertopeng ingin semua bahagia
Kita merela terluka
Lebih tepatnya aku.
Tidak tahu dengan kamu
Jika kelak ku relakan
Bolehkah ku mengharap
Kau pergi untuk pulang,
Bukan Hilang
(?)
Minggu, 27 Januari 2019
.tak(harus)sama
Gerak seantara maya
Merayu dua rasa pada beda masa
Dua ruang beda raga
Bersambut hanya pada saat-saat
Melalui banyak waktu
Menginjak banyak tempat
Demi tidak merusak
Yang seorang diam-diam sesak
Lain lagi tidak peduli
Minggu, 20 Januari 2019
.Rimba
Dalam rimba tak jelas rasa
Mengais raga menghabiskan asa
Aku manusia terenggut sorainya
Aku anak tercabut masanya
Terjebak dalam jerat sendiri
Sekeras menjerit siapa peduli
Akhirnya lelah menggumpal jadi benci
Mereka sebut insan harus bermimpi
Mereka lupa, pernah bilang manusia harus balas budi